Surabaya, HNN - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Operasi tersebut bertujuan mengatasi kekeringan berkepanjangan serta membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan menyebut sejumlah daerah yang mengalami hujan akibat operasi tersebut antara lain Sidoarjo, Pasuruan, dan Probolinggo.
"Jadi, di wilayah Pasuruan dan Probolinggo saya pastikan juga itu karena operasi modifikasi cuaca," Ujar Taufiq, pada hari Rabu (28/10/2026).
Hujan juga mengguyur Kota Surabaya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi cuaca di Surabaya cenderung berawan hingga mendung pada siang hari. Hujan juga turun Kabupaten Sidoarjo dan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.
Taufiq menjelaskan pelaksanaan OMC dilakukan melalui penyebaran natrium klorida (NaCl) untuk mempercepat proses kondensasi sehingga hujan dapat turun lebih awal di lokasi yang dituju.
BMKG menganalisis kondisi atmosfer menggunakan data radar, satelit, dan model prediksi cuaca modern sebelum pelaksanaan operasi. Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui arah angin serta mengidentifikasi awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Karena sorti yang dilakukan ada track-nya itu mengarah ke daerah Sidoarjo, kemudian Probolinggo, dan sebagian Pasuruan, itu yang dilakukan mengakibatkan hujan di daerah-daerah tersebut," Taufik Menerangkan.
Menurut Taufiq operasi penerbangan penyemaian awan dilakukan di sejumlah wilayah, meliputi Malang, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan sebagian Bondowoso. Hujan di daerah-daerah tersebut dipicu oleh pelaksanaan OMC yang melibatkan tim BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
"Jadi yang dilakukan sorti itu di daerah Malang, kemudian Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan sebagian Bondowoso. Hujan yang terjadi di daerah itu dipicu oleh adanya OMC yang dilakukan oleh tim BMKG, BRIN, dan teman-teman dari BPBD Provinsi," Ujar Taufik.
Meski demikian BMKG juga menegaskan bahwa hujan di wilayah Mataraman, seperti Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Kediri, Blitar, Nganjuk, Tulungagung, dan Trenggalek, bukan merupakan dampak dari OMC.
Sementara itu, berdasarkan prediksi BMKG, sebagian besar wilayah Jawa Timur diperkirakan baru memasuki musim hujan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.
Hasil analisis BMKG menunjukkan sebanyak 68 dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur atau sekitar 90,6 persen wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember. Mundurnya awal musim hujan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya menguatnya fenomena El Niño. (Mina, Ayu)
Editor : D1N