JAKARTA, HNN - Kehadiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di rumah duka Guruh Soekarno Putra di Jl. Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026), mendapat sorotan.
Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Yusuf Blegur menilai, takziah SBY bukan sekadar belasungkawa, melainkan momentum rekonsiliasi politik.
Baca Juga: Ketika PKS Menjelma jadi PSK
Yusuf memandang bahwa kehadiran SBY di rumah Guruh yang merupakan politisi PDIP dan adik kandung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu, merupakan rekonsiliasi politik yang selama ini dinilai merenggang.
"Kehadiran Pak SBY di rumah duka Mas Guruh adalah simbol rekonsiliasi. Kita tahu hubungan SBY dengan keluarga besar Bung Karno dan PDIP sempat merenggang dalam beberapa fase politik nasional. Takziah ini mencairkan kembali," ujar Yusuf Blegur saat dimintai tanggapan, Senin (28/9/2026).
Menurut Yusuf, SBY yang datang sekitar pukul 11.35 WIB dengan mengenakan pakaian serba hitam, menyampaikan penghormatan mendalam dengan menyebut Indonesia kehilangan seorang putra bangsa.
"Kita kehilangan seorang putra bangsa, Mas Guruh Soekarnoputra. Beliau bukan hanya putra dari Presiden pertama kita, proklamator kita, dan pejuang kemerdekaan kita," ucap SBY usai bertakziah, seperti dikutip.
Baca Juga: Akankah Anies Baswedan Terima Pinangan Kaesang pada Pilkada Jakarta
Yusuf menilai, pernyataan SBY tersebut menegaskan bahwa Guruh melampaui sekat partai. Guruh adalah milik bangsa melalui karya-karyanya bersama Swara Mahardika, Guruh Gipsy, hingga lagu-lagu nasional.
"Mas Guruh telah melakukan banyak hal untuk negeri ini melalui mahakaryanya di bidang seni. Semua tahu kecintaan Mas Guruh kepada Indonesia tercinta diekspresikan dalam karya seninya," kata SBY yang turut dikenang Yusuf.
Lebih jauh, Yusuf melihat takziah SBY ini sebagai momentum untuk melakukan safari politik dalam rangka perbaikan bangsa ke depan.
"Ini adalah momentum yang baik untuk melakukan safari politik kebangsaan. Dari rumah duka Mas Guruh, Pak SBY bisa memulai lagi silaturahmi kebangsaan dengan Ibu Megawati dan keluarga besar nasionalis. Bangsa ini butuh keteladanan bahwa perbedaan politik tidak menghapus rasa kemanusiaan dan kebangsaan," pungkas Yusuf.
Guruh Soekarno Putra wafat pada Sabtu 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Semanggi dalam usia 73 tahun. Jenazah dimakamkan di TPU Karet Bivak, di sisi makam ibundanya, Fatmawati Soekarno.
Editor : D1N