Oleh: Adi Suparto
JAKARTA – Di tengah panjangnya perjalanan waktu yang kerap menyisakan kisah ketertinggalan, kini terbuka lembar harapan bagi Pulau Madura. Melalui siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu 5 Agustus lalu, tercatat langkah strategis: pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura di Bangkalan, bersinergi dengan mitra dari Tiongkok, di bawah payung kemitraan Dua Negara Dua Kawasan Kembar. Gagasan besar ini bukan sekadar proyek pembangunan biasa; ia tumbuh dari mimpi tulus seorang putra asli Sumenep, yang tak pernah melupakan tanah kelahirannya, berkeinginan mengangkat derajat saudara se-pulau dari keterbatasan, membuka jalan kemakmuran yang pantas bagi anak bangsa di ujung timur Jawa.
Kerja sama yang ditegakkan menyasar sektor yang paling bersahabat dengan kebutuhan masyarakat: industri pengolahan cokelat, tekstil dan benang, pembuatan perlengkapan rumah, serta manufaktur penyerap tenaga kerja luas. Dilengkapi pengembangan logistik dan pergudangan, dibangun dengan tekad kuat memegang prinsip teknologi bersih dan hemat energi. Bahkan diperkuat kerja sama keuangan yang memungkinkan perdagangan memakai mata uang masing-masing, demi mengurangi ketergantungan luar dan memperkokoh kedaulatan ekonomi.
Ikatan kemitraan dibangun bukan sekadar janji lisan, melainkan tertulis jelas dalam perjanjian kerangka strategis, nota kesepahaman, dan penyatuan dalam jaringan kerja sama kawasan industri. Dukungan pemerintah pusat dan daerah mengalir untuk melicinkan perizinan, menyelaraskan kekuatan dengan industri besar Petrokimia Gresik; agar tumbuh beriringan, saling melengkapi, bukan bersaing tumpang tindih. Tujuannya tegas: menjadikan Madura gerbang pertumbuhan baru yang memancarkan kemajuan hingga ke pelosok Indonesia bagian timur.
Namun kemajuan sejati tak terukur hanya dari tinggi gedung pabrik atau angka investasi yang melambung. Ia terlihat dari siapa yang paling merasakan manfaatnya. Sebagai buah pemikiran anak tanah yang paham betul perjuangan hidup warga Madura, rakyat harus berdiri di barisan terdepan, bukan sekadar penonton yang menyaksikan kekayaan lewat begitu saja.
Kesempatan kerja harus menjadi hak utama putra-putri daerah; bukan hanya sebagai tenaga kasar, melainkan diberi ruang belajar, pelatihan, penyerapan ilmu dan teknologi hingga mampu menjadi tenaga ahli, pengelola yang cakap. Pintu kemitraan harus terbuka lebar bagi pengusaha kecil, petani, nelayan, agar ikut terlibat dalam rantai usaha, merasakan arus uang berputar di desa, tidak hanya terkumpul di tangan segelintir orang. Jalan raya, air bersih, fasilitas umum yang dibangun untuk kebutuhan industri, wajib menjadi milik bersama yang meringankan beban hidup sehari-hari. Suara masyarakat harus didengar sejak peta rencana digambar, bukan diputuskan sepihak dari jauh.
Kita tak boleh menutup mata dari pelajaran pahit yang ditinggalkan peristiwa di Konawe. Di sana, investasi datang gemerlap, namun meninggalkan sungai keruh, laut mati, ladang tandus, tubuh warga terserang sakit, perselisihan lahan yang menyayat hati. Kemajuan yang menginjak-injak hak hidup dan merusak alam pemberian Tuhan, hanyalah kemakmuran palsu yang cepat runtuh.
Oleh sebab itu, tekad mengawal cita-cita Madura ini harus dibekali kewaspadaan tajam. Rencana tata ruang dan penilaian dampak lingkungan tak boleh sekadar dokumen syarat izin, harus terbuka, diawasi bersama, melibatkan pengamat mandiri dan warga terdampak. Penggunaan tanah harus dijalani dengan hormat: harga pantas, persetujuan sukarela, tanpa paksaan yang menyakiti hati pemilik tanah leluhur. Pengawasan harus berjalan siang malam, saluran pengaduan jelas, sanksi tegas bagi siapa saja yang berani meracuni air kehidupan, mencemari udara bersih, atau merampas hak warga. Kita hanya memilih investasi bermutu, yang membawa kemajuan tanpa menghapus jejak budi dan kelestarian alam.
Gagasan mulia dari putra Sumenep ini adalah cahaya yang menyinari harapan lama yang sempat meredup. Semoga ia tumbuh menjadi kenyataan yang abadi: pabrik berdiri tegak bersanding laut jernih, sawah hijau tetap memberi panen, anak muda tersenyum optimis menyambut masa depan, setiap keluarga merasakan hidup makmur dan bermartabat.
Madura tidak hanya sedang membangun kawasan industri. Kita sedang membangun wajah kemajuan Indonesia yang beradab: maju pesat, adil menyentuh semua lapisan, menjaga alam lestari sebagai warisan tak ternilai bagi anak cucu kelak.
Baca Juga: Ketika Kepercayaan Mulai Retak
Penulis: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik
Baca Juga: Jejak Sunyi di Tiga Pintu
Editor : D1N