SURABAYA, HNN – Dominasi Jawa Timur di cabang olahraga selam yang selama ini menjadi lumbung emas PON kini berada di ujung tanduk. Sejumlah atlet mengaku frustrasi karena renovasi Kolam Renang Kertajaya, Surabaya, molor lebih dari 1,5 tahun sehingga mereka terpaksa berlatih terpencar di berbagai daerah. Kondisi tersebut memantik sorotan publik yang mendesak Gubernur, Wakil Gubernur, dan Sekda Jawa Timur segera mengevaluasi serta menegur keras Kadispora Jatim agar persoalan ini tidak mengorbankan masa depan atlet.
Dalam beberapa gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) terakhir, kontingen selam Jawa Timur selalu tampil perkasa. Hingga PON Aceh-Sumut 2024, Jatim terus mendominasi dengan 7 medali emas. Namun, pada PON NTT-NTB 2028 mendatang, gelar juara umum yang menjadi langganan mereka terancam melayang.
Baca Juga: KPK Didorong Kroscek Renovasi Kolam Kertajaya yang Dikelola Dispora Jatim
Hal ini disebabkan persiapan selam Jatim dipastikan kedodoran. Penyebabnya, renovasi Kolam Renang Kertajaya, Surabaya, molor lebih dari 1,5 tahun. Bahkan, meski saat ini kabarnya sudah hampir rampung, kolam renang tersebut belum bisa digunakan lantaran masih dalam masa perawatan pasca renovasi.
Ketua Umum Pengprov POSSI Jawa Timur, Mirza Muttaqien, tak menyangkal situasi pelik yang mereka hadapi. Ketiadaan fasilitas milik Pemprov yang dikelola Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim ini membuat para atletnya terpecah.
Mereka tidak bisa berlatih bersama layaknya persiapan menghadapi PON sebelumnya. Sebanyak 24 atlet selam yang mengikuti pemusatan latihan (Puslatda) mandiri pun harus berlatih terpisah.
Mirza menyebutkan, ada yang latihan di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan beberapa daerah lain. Mereka saat ini berlatih sendiri-sendiri. Ada yang bersama klubnya, ada yang mandiri. Baginya, latihan semacam ini tidak efektif karena kami tidak bisa dikontrol dan dimonitoring langsung oleh para pelatih.
Baca Juga: Inovasi AI dan Teknologi Kesehatan Jadi Sorotan di Surabaya Hospital Expo 2026
Bagi Mirza, selama renovasi Kolam Renang Kertajaya berlangsung, selain dari sisi teknis, banyak kendala yang harus mereka hadapi. Selain faktor biaya, saat ini fisik dan mental atletnya dipastikan menurun tajam akibat kendala tersebut.
“Prinsipnya, sebaik-baik atau sebesar-besarnya potensi yang dimiliki atlet, jika latihannya tidak rutin dan terkontrol, tentu hasilnya akan buruk atau tidak sesuai dengan standar yang semestinya,” sebut Mirza.
Meski kabarnya mereka bisa kembali memanfaatkan Kolam Renang Kertajaya dalam waktu dekat, kondisi ini membuat Mirza pesimistis para atletnya bisa kembali berjaya di PON 2028 nanti. Sebab, dalam sisa waktu yang ada, sulit bagi peselam Jatim untuk mencapai puncak performa saat gelaran PON XXII berlangsung.
Baca Juga: LaNyalla Warning Pemprov Jatim, Raperda Olahraga Jangan Langgar UU, KONI Bukan Bawahan Dispora
Saking frustrasinya, Mirza sampai mengaku tak tahu cara apa yang harus digunakan untuk mengatrol prestasi atletnya. Sebab, terlalu kompleks masalah yang musti mereka perbaiki.
“Dengan kondisi seperti ini saya pasrah. Karena, dengan persiapan seperti sekarang, mustahil bisa menyamai prestasi di PON-PON sebelumnya. Jangankan bicara target, proyeksi berapa medali emas yang bisa kita peroleh saja rasanya sulit,” pungkas direktur salah satu BUMD di Jatim ini. (red)
Editor : D1N