Dari Sampah Menjadi Rupiah, Maggot Menghidupkan Ekonomi Sirkular di Manukan Barat

SURABAYA, HNN - Di tempat sebagian orang melihat sisa makanan sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, warga Kelurahan Manukan Barat, Surabaya, mulai melihat kemungkinan lain. Dari limbah organik yang sebelumnya berakhir sebagai sampah, muncul larva kecil Black Soldier Fly (BSF) yang justru membuka jalan menuju nilai guna dan peluang ekonomi.

Perubahan cara pandang itu tumbuh melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Maggot Cultivation to Turn Sampah Menuju Cuan” yang digagas tim Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Program berlangsung intensif selama tiga bulan, Juli–September 2026, dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Hewan, Fakultas Ketahanan Pangan UNESA.

Baca Juga: Jejak 1.517 Intelektual Muda Unesa Menuju Indonesia Emas 2045

Di balik ukurannya yang kecil, maggot menyimpan gagasan besar: mengubah persoalan sampah organik menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih sirkular.

Tim yang terdiri atas Rizka Muizzu Aprilia, S.Pt., M.Pt., dan Heni Natalia Aritonang, S.Pt., M.Pt., bersama mahasiswa, tidak sekadar memperkenalkan teknik budidaya. Warga didampingi sejak tahap pemilahan dan pengelolaan limbah organik domestik, penyediaan media pakan, pemeliharaan larva BSF, pemanenan, hingga pengolahan hasil menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.

Salah satu produk yang dikembangkan adalah maggot kering yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ikan dan ayam.

Di sinilah program tersebut menemukan makna yang lebih luas. Sampah tidak lagi ditempatkan semata sebagai residu yang harus dipindahkan dari rumah ke tempat pembuangan. Limbah organik diperlakukan sebagai bahan baku yang masih memiliki fungsi apabila dikelola dengan pengetahuan dan teknologi yang tepat.

Kepala Kelurahan Manukan Barat, Moestofa, S.T., mengapresiasi pendampingan yang dilakukan UNESA. Menurut dia, pengelolaan sampah organik merupakan persoalan yang hampir selalu ditemukan di lingkungan masyarakat.

“Kami sangat antusias untuk mendukung pengolahan sampah organik ini. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan produk maggot kering yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam,” ujar Moestofa.

Bagi warga, perubahan itu tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Didik, salah satu peserta, mengaku pengetahuan yang diperolehnya mendorongnya mencoba membudidayakan maggot secara mandiri.

“Saya sangat bersemangat mendapatkan pengetahuan tentang cara mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Setelah mendapat pendampingan, saya mencoba melakukan budidaya sendiri dan hingga kini masih berjalan,” katanya.

Ada satu indikator yang membuat kisah ini menjadi lebih menarik: budidaya yang dilakukan Didik telah memasuki generasi ketiga maggot.

Artinya, pengetahuan yang diperoleh warga tidak berhenti ketika tim pengabdian meninggalkan lokasi. Siklus budidaya mulai berjalan dengan kemampuan masyarakat sendiri. Bagi sebuah program pemberdayaan, keberlanjutan semacam ini menjadi bagian penting karena ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa banyak warga mengikuti pelatihan, melainkan apakah pengetahuan tersebut dapat hidup setelah program selesai.

Rizka Muizzu Aprilia menjelaskan, budidaya maggot dapat dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pengelolaan limbah organik berbasis masyarakat.

“Konsep yang kami dorong adalah bagaimana sampah organik dapat dimanfaatkan kembali melalui budidaya maggot. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.

Baca Juga: UNESA Kenalkan Inovasi Olahan Labu Kuning kepada Siswa SMK Miftahul Ulum Lamongan

Ketika Sampah Masuk ke Dalam Lingkaran Ekonomi

Program tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Ilmu Hewan UNESA. Mereka tidak hanya memindahkan pengetahuan dari ruang kuliah ke ruang masyarakat, tetapi terlibat langsung dalam proses pendampingan, edukasi, praktik budidaya, pemanenan, hingga pengolahan maggot.

Di Manukan Barat, teori tentang pemanfaatan limbah kemudian bertemu dengan persoalan sehari-hari: sisa makanan rumah tangga, kebutuhan pakan, keterampilan warga, serta peluang ekonomi yang bisa dikembangkan dari sumber daya yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Rantai sederhananya terbentuk.

Limbah organik menjadi media pakan BSF. Larva tumbuh. Maggot dipanen. Hasilnya dapat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif.

Siklus itu memperlihatkan prinsip ekonomi sirkular dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dialihkan menjadi input dalam proses produksi.

Namun, budidaya maggot bukan sekadar persoalan “mengubah sampah menjadi uang”. Ia membutuhkan pengelolaan yang tepat, kedisiplinan, pengetahuan teknis, serta kesinambungan praktik. Karena itu, pendampingan masyarakat menjadi bagian penting agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

Baca Juga: Kementan Dukung FKP UNESA Kembangkan Kedelai, 56 Hektare Lahan Disiapkan

Apa yang berlangsung di Manukan Barat menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Kadang-kadang, ia bermula dari sesuatu yang nyaris tak terlihat: larva kecil yang bekerja di balik tumpukan limbah organik.

Dari sana, tumbuh sebuah kemungkinan bahwa persoalan sampah dapat didekati bukan hanya dengan membuang, tetapi dengan mengolah, memanfaatkan, dan menciptakan nilai.

Ketika budidaya warga memasuki generasi ketiga, pesan yang muncul menjadi lebih kuat. Program pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar meninggalkan pengetahuan, tetapi mulai meninggalkan kebiasaan baru.

Dan di Manukan Barat, perubahan itu dimulai dari sampah.

Berakhir sebagai maggot.

Lalu berpeluang kembali menjadi rupiah.

(Mochammad Fasichullisan)

Editor : D1N