SURABAYA, HNN – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) syariah tidak berhenti pada pemenuhan aspek kehalalan produk. Lebih dari itu, UMKM didorong memperkuat standardisasi, legalitas, branding, hingga akses pasar melalui strategi off-taker.
Skema tersebut diarahkan untuk mempertemukan UMKM, termasuk UMKM berbasis pesantren, dengan jaringan pasar yang lebih luas, mulai dari ritel, distributor, hotel, restoran hingga pasar ekspor.
Baca Juga: FPK: Rumah Bersama untuk Keberagaman dan Penguatan UMKM
Ketua BPD HIPMI Jawa Timur Ahmad Salim Assegaf mengatakan, strategi off-taker menjadi bagian dari upaya mengubah pola pengembangan UMKM yang selama ini masih cenderung berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, HIPMI berupaya menjadi rumah kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai jaringan pasar dan mitra strategis yang dimiliki organisasi maupun jejaringnya.
“HIPMI rumah kolaborasi daripada pengusaha, pengusaha skala apa pun itu, baik skala UMKM maupun non-UMKM,” ujar Ahmad Salim Assegaf dalam Talkshow Model Pemberdayaan Usaha Syariah pada Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Convention Exhibition Surabaya, Jumat (25/9/2026).
Ahmad menjelaskan, sebelum masuk ke skema off-taker, produk UMKM terlebih dahulu perlu melalui proses kurasi. Produk yang dinilai memiliki potensi pasar kemudian dapat masuk dalam tahap inkubasi dan penguatan kapasitas sebelum dipertemukan dengan mitra usaha.
“Kita bisa melakukan proses kurasi terhadap UMKM, baik UMKM pesantren maupun UMKM non-pesantren. Produk ini kita kurasi, kita inkubasi, kita latih dan sebagainya agar kemudian bisa kita kawinkan dengan para mitra melalui off-taker,” katanya.
Menurut Ahmad, penguatan kualitas produk menjadi faktor penting agar UMKM mampu masuk ke pasar yang lebih luas. Karena itu, pelaku usaha perlu memperhatikan aspek standardisasi, sertifikasi halal, serta legalitas produk.
“Yang pertama adalah pengusaha itu betul-betul harus memiliki standardisasi terkait masalah kehalalan, proses sertifikasinya, ataupun yang terkait dengan legalitas produk tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: 1,1 Juta UMKM Nahdliyin Kesulitan Akses Pasar, Ketua DPD RI Koneksikan dengan Kadin Jatim
Setelah aspek dasar tersebut terpenuhi, UMKM juga perlu membangun identitas produk melalui penguatan branding dan pemanfaatan media sosial maupun berbagai platform digital.
Langkah tersebut dinilai penting karena persaingan produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang, tetapi juga kemampuan pelaku usaha membangun kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar.
HIPMI Jatim turut memperkuat ekosistem tersebut melalui HIPMI Syariah Jawa Timur. Badan semiotonom tersebut diarahkan untuk membantu pengusaha, khususnya pengusaha muda, memahami peluang ekonomi syariah sekaligus perkembangan halal lifestyle.
Ahmad menilai pasar produk halal kini memiliki cakupan yang semakin luas. Menurut dia, produk halal tidak lagi semata-mata dipandang sebagai kebutuhan konsumen Muslim, tetapi juga mulai mendapat perhatian dari konsumen dengan latar belakang yang beragam.
“Halal lifestyle ini bukan hanya fokus di Muslim saja, tetapi non-Muslim pun sekarang juga betul-betul menyukai produk halal lifestyle,” katanya.
Baca Juga: BPKN dan PUMK Minta Pemerintah Perketat Pengawasan Peredaran AMDK
Karena itu, Ahmad mendorong pelaku UMKM agar tidak memandang sertifikasi halal sekadar sebagai pemenuhan persyaratan administratif. Sertifikasi dan standardisasi, kata dia, dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas akses pasar.
Ia berharap semakin banyak UMKM di Jawa Timur yang melakukan standardisasi dan sertifikasi produk sehingga mampu menangkap pertumbuhan kebutuhan terhadap produk halal.
“Kita harus melihat bahwa makin ke sini kebutuhan terkait halal lifestyle itu tinggi. Sekali lagi, bukan hanya Muslim saja, tetapi non-Muslim pun juga tertarik dengan produk halal,” ujar Ahmad.
“Oleh karenanya, ayo teman-teman UMKM, bagaimana betul-betul mensertifikasi atau menstandardisasi produknya agar bisa diterima oleh pasar halal lifestyle. HIPMI, insyaallah, akan support terkait itu,” pungkasnya. (Ayu-Mina)
Editor : D1N