INDONESIA NEGARA MISKIN DENGAN LEMBAGA “EKSTRAKTIF “ PASCA AMANDEMEN 2002

Reporter : D1N

Oleh Prihandoyo Kuswanto 

Ketua Pusat Studi Kajian 

Rumah Panca Sila 

PENDAHULUAN 

Prof Sofyan Efendi memberi tahu saya mengapa negeri ini semakin jauh dari kesejateraan rakyat nya 

Didalam buku Acemoglu dan Robertson dengan judul "Why Nations Fail", penulis simpulkan bahwa negara2 di 5 benua banyak yang belum sukses mewujudkan kesejahteraan bangsanya, karena bangsa2 tersebut tetap memakai lembaga (institutions) politik, ekonomi, sosial-budaya, hukum, dan prmerintahan ekstraktif, yang menghasilkan bangsa miskin. Ada tanda -tanda lembaga ekstraktif tersebut warisan penjajahan selama ratusan ratusan tahun.

Kebuntuan lembaga yg dihadapi Indonesia setelah 81 th merdeka belum dapat diatasi karena penggantian amandemen UUD sebanyak 4 kali belum menghasilkan lembaga negara inklusif. UUD 2002 adalah salah satu bukti penerapan lembaga yang kita terapkan hanya untuk perkaya segelintir orang oligopolis.. 

Kita masih di jalan buntu mungkin sampai 2045.

Didalam buku _Why Nations Fail_ nya Acemoglu & Robinson. Itu buku paling "nusuk" buat ngerti Indonesia sekarang ini .

Satu kalimat intinya: Negara Miskin dengan Lembaga Ekstraktif. 

Negara Kaya dengan Lembaga Inklusif 

BAGAIMANA DENGAN "INDONESIA YANG SUDAH 81 TAHUN MERDEKA DARI KOLONIAL KE OLIGARKI"

Mari kita bedah _Pakai kacamata Acemoglu & Robinson_

APA ITU "LEMBAGA EKSTRAKTIF"?*

Ciri-cirinya: `Kekuasaan & Uang dikuras untuk segelintir elite. Rakyat cuma jadi sapi perah`

ASPEK LEMBAGA EKSTRAKTIF**

Adalah Warisan Belanda*

81 TAHUN MERDEKA: DARI V.O.C KE OLIGARKI"*Garis merah Ekstraktif dari 1500 hingga 2026_

1500an: Portugis** Monopoli Rempah Kuras SDA Rakyat Maluku

GARIS LURUS EKSTRAKTIF: PORTUGIS → V.O.C → OLIGARKI*

1600an: V.O.C** Tanam Paksa, Kerja Rodi Kuras Tenaga dan Uang Petani Jawa

1945-1998: Orde Lama/Baru** Sentralistik, KKN Kuras APBN Rakyat

*2002-Sekarang: Oligarki** Pilpres 500M, 553 Visi Misi Kepala Daerah dan otonomi daerah raja raja kecil

Legeslatif dengan UU Titipan oligarkhi Kuras kekayaan Negara 94% Rakyat semakin dimiskinkan .

POLITIK** 1 orang/kelompok kuasai semua **EKONOMI** SDA & Proyek untuk kroni SDA Dkeruk dengan keserakahan 

HUKUM** Hukum tajam ke bawah,

tumpul ke atas

LEMBAGA INKLUSIF

sesuai dengan Cita-cita dan tujuan UUD 1945 Kekuasaan dibagi, diawasi, bisa diganti

Hukum sama untuk semua

TUJUAN MEMBANGUN BERSAMA KESEJAHTERAAN RAKYAT BERSAMA 

BUKTI KITA MASIH "EKSTRAKTIF" PASCA AMANDEMEN 2002

Acemoglu bilang: "Ganti presiden tidak cukup. Harus ganti lembaga"

Nah kita 4x ganti UUD, tapi lembaganya masih ekstraktif:

POLITIK EKSTRAKTIF

MPR dicopot giginya Pasal 3`UUD 1945 Tidak ada lagi yang ngawasin Presiden

Presiden setara MPR` Tidak ada "Kepala Negara" yang jaga marwah Negara .

Model demokrasi Pemilihan langsung Hasil nya  Yang kuat yang punya banyak duit untuk membeli suara rakyat dan kampanye

94% rakyat menjadi obyek pemilu

EKONOMI EKSTRAKTIF

Pasal 33 diamandemen` Dikuasai negara" jadi "dikuasai pasar"dikuasai oligarkhy 

553 Visi` Misi daerah menggati Visi Misi Negara APBN pecah-pecah buat proyek elit daerah untuk raja raja kecil di daerah atas nama Otonomi Daerah 

1% olugarkhi menguasai 50% aset 1% Oligarki menguasai 70% lahan di Indonesia oligarki makin kaya dengan sisten Ekstraktif 

HUKUM EKSTRAKTIF

 Tap MPR ngambang` Aturan bisa diakalin

 UU jadi alat` Buat lindungi oligarkhi yang punya kuasa

Hasil: Rakyat kecil yang salah. Rakyat besar yang "diberi kesempatan"

Kesimpulan Acemoglu: `Selama lembaganya ekstraktif, ganti presiden 100x pun hasilnya sama: MISKIN`

KENAPA NEGARA KITA "JALAN BUNTU" SAMPAI 2045?

Karena kita salah memilih obat.

Masalah: Lembaga Ekstraktif`

Obat yang dikasih: PPHN, UU, Ganti Menteri` Omnibuslaw 

Itu sama saja: Ngecat tembok rumah yang pondasinya retak*

Solusi Acemoglu: "Critical Juncture" dan "Ganti Lembaga Jadi Inklusif"`

Solusi "Kembalikan Pasal 3. Kembalikan GBHN. Kembalikan Kepala Negara"`

Sama. Kita butuh "reset sistem", bukan "tambal sulam"

Penulisnya bilang: Negara gagal bukan karena rakyatnya malas.`

Negara gagal karena lembaganya ekstraktif.`

Saya melihat Indonesia 81 tahun merdeka.`

Dulu dijajah Belanda 350 tahun. Lembaganya ekstraktif.`

Sekarang merdeka, kita ganti UUD 4 kali.`

Justru UUD 2002 melahirkan lembaga baru yang ekstraktif.`

Politik: Kekuasaan dibagi ke Daerah 553 raja kecil.`

Ekonomi: Pasal 33 dikaburkan. SDA untuk segelintir orang.`

Hukum: Tap MPR tidak punya tempat.`

Jadi kita merdeka secara bendera. Tapi belum merdeka secara lembaga.`

Kalau mau Indonesia Emas 2045, jangan mimpi.`

Kecuali kita berani: Bongkar lembaga ekstraktif. Pasang lembaga inklusif.`

Caranya: Kembalikan kedaulatan rakyat. Kembalikan MPR. Kembalikan Pasal 3.

Kalau tidak, 2045 nanti kita masih begini-begini saja.`

KESIMPULAN 

KALIMAT PENUTUP DARI "WHY NATIONS FAIL" VERSI INDONESIA

1. Kita tidak dijajah lagi. Kita menjajah diri sendiri lewat lembaga"

2.Oligarki itu kolonialisme gaya baru. Bedanya yang jajah orang kita sendiri

3.Kalau mau kaya seperti Korea Selatan, tiru lembaganya. Jangan tiru K-Pop nya saja

Buku Acemoglu itu senjata akademik. Tabel GBHN vs PPHN itu senjata politik.

Ini bukan opini. Ini fakta sejarah + data.

UUD 2002 = Mesin Ekstraktif Modern. Ganti sopir 5x, mesinnya tetap makan rakyat.

Catatan: `Penjajah dulu ambil rempah. Oligarki sekarang ambil APBN + Regulasi + Izin`

Editor : D1N

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru