MANILA, HNN - Pengusaha nasional HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menuntaskan rancangan ekspansi besar industri rokok Indonesia yang memadukan kekuatan industri besar dengan ekonomi rakyat. Melalui Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), ia menyiapkan pembangunan 19 pabrik rokok, 17 gudang tembakau raksasa, serta pembinaan 2.000 perusahaan rokok UMKM di tiga provinsi.
Konsep dan strategi besar tersebut diselesaikan Gus Lilur pada Minggu, (15/3/2026) di Manila, Filipina.
Baca Juga: PANCA AMPERA Menggema dari Madura: Gus Lilur Serukan Keadilan bagi Petani dan Industri Rokok Rakyat
Rencana tersebut menjadi bagian dari langkah besar membangun ekosistem industri tembakau nasional yang terintegrasi dari sektor pertanian hingga manufaktur dan distribusi.
Menurut Gus Lilur, tahap awal yang menjadi fondasi usaha telah rampung, yakni pembentukan sejumlah induk perusahaan yang menaungi bisnis rokok, tembakau, hingga distribusi nasional.
Di sektor rokok, terdapat enam induk perusahaan yang menjadi pilar utama, yakni Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU).
Lima dari enam perusahaan tersebut telah menyelesaikan seluruh proses legalitas usaha. Bahkan salah satu perusahaan telah memiliki pabrik rokok lengkap dengan fasilitas produksi.
Sementara satu perusahaan lainnya masih dalam tahap penyelesaian proses perizinan.
Selain itu, dua induk perusahaan juga didirikan untuk memperkuat sektor hulu tembakau, yaitu Nusantara Global Tobacco (NGO) serta Bandar Tembakau Indonesia atau Bakau Indonesia.
Untuk memperkuat jalur distribusi nasional, Gus Lilur juga mendirikan perusahaan logistik Angkut Barang Seluruh Nusantara atau Abang Setara.
Setelah fondasi legalitas usaha dinyatakan selesai, langkah berikutnya adalah ekspansi besar di sektor produksi dan pengolahan tembakau.
BARONG Grup merencanakan pembangunan gudang tembakau skala besar di 17 kabupaten yang tersebar di tiga provinsi.
Di Jawa Timur, gudang tembakau akan dibangun di Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Di Nusa Tenggara Barat akan berdiri di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Kota Mataram.
Sementara di Jawa Tengah akan dibangun di Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, serta Jepara.
Seiring pembangunan gudang tembakau tersebut, BARONG Grup juga merancang pembangunan 19 pabrik rokok berskala menengah hingga besar dengan standar produksi internasional.
Baca Juga: Gus Lilur: Jangan Sampai Kasus Cukai Salah Sasaran dan Rugikan Usaha Kecil
Sebanyak 17 pabrik akan berdiri di daerah yang memiliki gudang tembakau, sedangkan dua pabrik lainnya direncanakan dibangun di Sidoarjo dan Malang.
Namun menurut Gus Lilur, rencana tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan industri besar semata.
Ia ingin membangun model industri yang juga melibatkan kekuatan ekonomi rakyat melalui pengembangan perusahaan rokok skala UMKM.
Dalam konsep tersebut, BARONG Grup akan membina sekitar 2.000 perusahaan rokok UMKM yang tersebar di berbagai daerah.
Setiap perusahaan diperkirakan mempekerjakan sekitar 20 pekerja.
Jika program ini berjalan penuh, maka ekosistem industri tersebut berpotensi menciptakan sekitar 40.000 lapangan kerja baru.
Produksi UMKM tersebut akan menggunakan sistem maklun dengan fokus pada enam jenis rokok kretek yang menggunakan karakter tembakau khas Nusantara.
Baca Juga: Muktamar NU: Ujian Integritas di Persimpangan Nilai dan Kekuasaan
Enam varian tersebut meliputi Virginia Blend dari tembakau Lombok, Oriental Blend dari tembakau Madura, Burley Blend dari tembakau Jember dan Banyuwangi, Besuki Blend dari tembakau Situbondo, Lumajang Blend dari tembakau Lumajang, serta Srintil Blend dari tembakau Temanggung.
Menurut Gus Lilur, integrasi antara industri besar dan jaringan UMKM ini diharapkan menciptakan rantai industri tembakau nasional yang kuat dari hulu hingga hilir.
Ia optimistis konsep tersebut dapat melahirkan kekuatan baru industri rokok Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.
“Harapannya petani tembakau Indonesia semakin sejahtera, industri rokok nasional semakin kuat, dan bangsa ini semakin percaya diri dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki,” ujarnya.
Gus Lilur juga menegaskan bahwa visinya bukan sekadar membangun perusahaan besar, melainkan membangun sistem ekonomi yang melibatkan masyarakat luas.
Ia berharap penguatan industri tembakau nasional dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi rakyat di berbagai daerah.
“Saatnya petani tembakau Indonesia kaya. Saatnya rokok Indonesia berjaya. Saatnya Republik Indonesia semakin kuat,” katanya. (d43n9)
Editor : Redaktur