SURABAYA, HNN – Usia 54 tahun bagi Roose Meery bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru pada usia ketika sebagian orang mulai mengurangi aktivitas akademik, guru SMPN 4 Surabaya itu memilih kembali duduk di bangku kuliah, membaca, berdiskusi, menulis, dan menguji kembali pengetahuan yang selama ini ia ajarkan kepada para siswanya.
Hampir dua dekade mengabdikan diri sebagai pendidik tidak membuat rasa ingin tahunya surut. Roose justru memperluas cakrawala dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, aktif menulis, mengikuti kegiatan akademik lintas negara, hingga melahirkan karya literasi yang bersentuhan dengan nilai-nilai pendidikan dan antikorupsi.
Baca juga: Aries Agung Paewai: Pendidikan Jatim Harus Inklusif, Adaptif, dan Berdaya Saing Global
Perjalanan akademiknya mencapai salah satu tonggak penting pada 26 September 2026. Bertempat di Graha Unesa Surabaya, Roose menjadi bagian dari Wisuda ke-122 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), setelah menyelesaikan pendidikan S2 Pendidikan dan Kewarganegaraan Pancasila, angkatan 2024.
Gelar magister yang diraihnya bukan sekadar tambahan gelar akademik. Bagi Roose, pencapaian itu menjadi pengingat bahwa seorang guru harus bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Ketika Guru Kembali Menjadi Murid
Ada ironi sekaligus pesan kuat dalam perjalanan Roose.
Setiap hari ia berdiri di depan kelas untuk mengajar. Namun ketika menempuh pendidikan magister, ia kembali berada di posisi yang sama dengan para pembelajar lainnya: duduk mendengarkan dosen, membaca berbagai referensi, berdiskusi, menulis, menyusun gagasan, dan menerima kritik.
Pengalaman itu justru memperkaya perspektifnya sebagai pendidik.
Menjadi guru, menurut Roose, bukan berarti telah selesai belajar. Sebaliknya, guru dituntut terus memperbarui pengetahuan agar apa yang disampaikan kepada peserta didik tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Pengabdian Roose di dunia pendidikan telah berlangsung sekitar 20 tahun. Sebelum bertugas di SMPN 4 Surabaya, ia pernah mengajar di SMPN 24 Surabaya.
Di tengah perjalanan panjang sebagai pendidik, ia tidak hanya berkutat dengan aktivitas mengajar. Ia juga mengembangkan minat di bidang literasi dan penulisan.
Masa pandemi menjadi salah satu momentum yang semakin mendekatkannya dengan dunia menulis. Ketika aktivitas pendidikan dan kehidupan sosial mengalami perubahan besar, Roose menuangkan pengalaman serta gagasannya melalui sejumlah karya.
Beberapa di antaranya adalah Bunga Berseri dalam Pandemi, Gejolak Masa Pandemi, Modul PPKn Kelas VIII, dan Jurnal PTK PPKn Kelas VIII.
Bagi seorang guru PPKn, menulis bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Menulis menjadi ruang untuk merefleksikan pengalaman, merawat gagasan, sekaligus mendokumentasikan berbagai dinamika pendidikan.
Dari Ruang Kelas ke Cerita Antikorupsi
Kebiasaan menulis itu tidak berhenti setelah pandemi berlalu.
Ketika masih menempuh pendidikan S2, Roose mengikuti kegiatan penulisan cerpen bertema antikorupsi dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia pada 23 April 2026.
Ia menulis cerpen berjudul Ketika Kejujuran Dilelang Diam.
Karya tersebut masuk dalam kategori penulis cerpen terpilih dan mengantarkannya memperoleh sertifikat penghargaan serta piagam.
Tema yang diangkatnya memiliki kedekatan dengan dunia pendidikan. Kejujuran, bagi Roose, bukan sekadar konsep yang diajarkan melalui buku pelajaran. Nilai tersebut harus hadir dalam perilaku sehari-hari.
Di sinilah pendidikan kewarganegaraan menurutnya menemukan relevansinya.
PPKn tidak berhenti pada pembelajaran mengenai norma, konstitusi, hak dan kewajiban warga negara. Lebih jauh, pendidikan kewarganegaraan berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Menulis cerita antikorupsi menjadi salah satu cara Roose menyampaikan pesan tersebut melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pendidikan dan literasi pun bertemu dalam satu ruang: membangun kesadaran.
Belajar Melampaui Batas Kelas
Baca juga: Pemkot Surabaya Siapkan 190 Miliar Untuk Beasiswa Sebanyak 23.000 Mahasiswa
Perjalanan akademik Roose juga membawanya menyeberangi batas negara.
Pada 24–26 Mei 2026, ia mengikuti kegiatan akademik yang berkaitan dengan Public Administration serta Pancasila Education and Citizenship di lingkungan National University of Malaysia, Kuala Lumpur.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajarnya di luar negeri.
Belajar di lingkungan akademik yang berbeda memberinya kesempatan untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas. Bukan hanya melalui materi akademik, tetapi juga dengan mengamati tradisi, kebudayaan, lingkungan sosial, serta dinamika masyarakat di negara lain.
Pengalaman itu memperkaya cara pandangnya sebagai pendidik.
Sebab, dunia pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia selalu berhadapan dengan perubahan masyarakat, perkembangan teknologi, keragaman budaya, serta karakter generasi muda yang terus berubah.
Karena itu, seorang guru juga dituntut memiliki kemauan untuk keluar dari zona nyaman dan terus memperluas cakrawala.
Magister Bukan Garis Akhir
Kini gelar Master of Education telah diraih.
Namun, bagi Roose, gelar tersebut bukan garis akhir.
Justru setelah menyelesaikan pendidikan magister, muncul tanggung jawab baru untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi karya, inovasi, kolaborasi, dan pengabdian.
Semangat itu sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian penting dari kehidupan akademik.
Dalam konteks pendidikan nasional, perjalanan Roose juga memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak mengenal batas usia.
Baca juga: Etika Digital dalam Pendidikan di Era Disrupsi Teknologi
Seorang guru yang terus belajar memiliki peluang untuk membawa pengetahuan dan pengalaman baru ke ruang kelas. Pengetahuan itu kemudian diteruskan kepada peserta didik yang kelak menjadi bagian dari generasi penerus bangsa.
Pada akhirnya, Roose tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang telah selesai dengan proses belajar.
Ia menyadari bahwa perjalanan pendidikan selalu memiliki keterbatasan dan tantangan. Namun, dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa pencapaian membutuhkan usaha, ketekunan, tekad, serta niat yang tulus.
Pesan tersebut juga ia tanamkan kepada murid-muridnya melalui ungkapan sederhana: ora et labora—berdoa dan bekerja.
Bagi Roose, kerja keras tidak berdiri sendiri. Ia berjalan bersama doa dan ketekunan.
Pada usia 54 tahun, Roose Meery memang telah menutup satu bab perjalanan akademiknya dengan gelar magister.
Tetapi kisah itu sekaligus membuka bab berikutnya.
Sebab usia boleh bertambah, tetapi rasa ingin tahu tidak harus menua.
Seorang guru tidak kehilangan wibawa ketika kembali menjadi murid. Justru dari pengalaman menjadi murid, seorang guru dapat kembali ke ruang kelas dengan perspektif yang lebih luas.
Dan pendidikan, pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh seseorang telah berjalan, melainkan tentang kesediaannya untuk terus melangkah ketika perjalanan masih panjang.
Belajar tidak mengenal usia. Dan bagi Roose Meery, 54 tahun bukan akhir untuk belajar—melainkan alasan untuk terus melangkah.
(Mochammad Fasichullisan)
Editor : D1N