Yth. Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto,
Bapak Presiden,
Baca Juga: Nonaktif Adies Kadir Dinilai Setengah Hati, Ridwan Hisjam Serukan Reformasi Jilid II
Di tengah konflik antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain, Indonesia sedang diuji bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai watak politik.
Di saat seperti inilah sebuah pemerintahan memperlihatkan apakah ia benar-benar memiliki strategi, atau sekadar bereaksi. Apakah ia memegang kemudi, atau hanya menunggu gelombang berikutnya sambil berharap kapal tidak terbalik.
Perang ini bukan lagi konflik regional yang jauh dari Jakarta. Ia telah berubah menjadi ujian nyata bagi ekonomi, diplomasi, dan ketahanan strategis Indonesia.
Gangguan di kawasan Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga minyak dunia, menekan mata uang Asia, dan memaksa negara-negara pengimpor energi menghadapi pilihan yang sama-sama pahit: inflasi, pelemahan kurs, atau tekanan fiskal.
Bagi Indonesia, dampaknya langsung. Sekitar seperempat impor minyak dan hampir sepertiga impor LPG berasal dari kawasan tersebut. Artinya, setiap ledakan di sana bergema ke APBN, ke dapur rakyat, dan ke stabilitas dalam negeri.
Karena itu, persoalan yang kita hadapi bukan sekadar “ikut siapa” atau “berjarak dari siapa”. Persoalannya adalah: apakah Indonesia akan terus mengulang slogan bebas aktif sebagai mantra seremonial, atau menjadikannya strategi yang hidup?
Di era seperti sekarang, netralitas pasif bukan kebajikan. Ia hanya cara sopan untuk kalah tanpa bertempur.
Dua Jebakan yang Harus Dihindari
Indonesia tidak boleh terjebak dalam dua ilusi sekaligus.
Pertama, romantisme geopolitik—dorongan masuk terlalu jauh ke poros tertentu atas nama solidaritas moral, tetapi mengorbankan kepentingan strategis.
Kedua, ketakutan diplomatik—sikap terlalu hati-hati agar tidak menyinggung kekuatan besar, hingga kehilangan keberanian dan martabat.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Yang satu mengorbankan kalkulasi.
Yang lain mengorbankan kedaulatan.
Indonesia membutuhkan jalan ketiga: non-blok yang aktif, tegas, dan berketahanan.
Makna Bebas-Aktif yang Sebenarnya
Kutipan klasik tentang bahaya bersekutu dengan kekuatan besar untuk mengalahkan pihak lain kembali relevan hari ini: jika menang, kita berada di bawah bayang-bayang sekutu; jika kalah, kita ditinggalkan sendirian.
Pertanyaan lamanya tetap sama:
bagaimana Indonesia bertahan merdeka di tengah benturan kekuatan besar?
Doktrin bebas aktif sebenarnya sudah tepat. Masalah kita bukan pada konsep, tetapi pada keberanian menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.
Terlalu sering, bebas aktif menjadi bahasa aman yang tidak menjelaskan apa-apa.
Padahal situasi hari ini tidak memberi ruang bagi ambiguitas.
Taruhan Nyata: Energi, Ekonomi, dan Stabilitas
Konflik ini menyentuh jalur energi global, termasuk Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
Gangguan di sana berarti:
harga energi melonjak, pasokan terganggu, dan Asia menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.
Dalam kondisi seperti ini, negara menengah yang cerdas tidak menjadi kaki tangan konflik. Ia menjaga ruang manuver, melindungi kepentingan vital, dan mencegah dirinya menanggung biaya perang yang tidak ia mulai.
Empat Kepentingan Nasional yang Harus Dijaga
1. Otonomi strategis
Indonesia tidak boleh menjadi bagian dari blok mana pun. Terlalu dekat ke satu kutub berarti kehilangan kebebasan bertindak.
2. Legitimasi moral dan hukum internasional
Indonesia harus tetap konsisten sebagai negara anti-kolonial, pendukung Palestina, dan penolak agresi sepihak.
Baca Juga: Netralitas ASN di Kab. Kediri Diragukan, Oknum Pejabat Diduga Terlibat Kampanye Paslon Nomor Urut 2
3. Ketahanan geoekonomi
Kenaikan harga energi berdampak langsung pada subsidi, inflasi, logistik, dan daya beli rakyat. Ini adalah isu keamanan nasional.
4. Relevansi diplomatik
Diam berarti tetap menanggung dampak, tanpa memiliki pengaruh. Aktif berarti bisa membatasi kerugian sekaligus meningkatkan posisi tawar.
Lima Langkah Mendesak
Pertama, nyatakan posisi secara tegas
Tolak perluasan perang, tolak serangan sepihak tanpa mandat internasional, dan dorong de-eskalasi.
Kedua, aktifkan diplomasi nyata
Gunakan jalur ASEAN, OKI, dan kemitraan strategis untuk membangun koordinasi politik dan energi.
Ketiga, perlakukan ini sebagai krisis geoekonomi
Percepat diversifikasi energi, perkuat cadangan, dan siapkan skenario fiskal menghadapi lonjakan harga.
Keempat, bentuk koordinasi lintas sektor
Ini bukan hanya isu luar negeri. Ini krisis nasional yang melibatkan ekonomi, energi, dan keamanan.
Kelima, komunikasikan kepada publik
Rakyat harus tahu bahwa sikap Indonesia adalah strategi, bukan kebingungan.
Non-Blok Bukan Non-Sikap
Banyak negara menengah keliru mengira bahwa tidak ikut perang berarti aman.
Baca Juga: Subandi-Mimik Idayana Kuasai Materi Debat Kedua Tentang Pelayanan dan Mengatasi Persoalan Daerah
Padahal kenyataannya:
mereka tetap membayar melalui inflasi, krisis energi, dan tekanan ekonomi.
Di sinilah penting membedakan:
Non-blok adalah strategi menjaga kedaulatan.
Non-sikap adalah kegagalan mengambil keputusan.
Indonesia harus memilih yang pertama.
Penutup: Saatnya Bertindak
Indonesia tidak boleh menjadi penonton yang membayar tagihan perang orang lain.
Kita harus menunjukkan bahwa bebas aktif bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata:
independen dalam aliansi, tegas dalam prinsip, aktif dalam diplomasi, dan kuat dalam ketahanan ekonomi.
Sejarah tidak akan menilai seberapa hati-hati kita berbicara, tetapi seberapa berani kita bertindak.
Jika Indonesia mampu mengambil posisi yang tepat, kita tidak hanya akan bertahan dari krisis ini—kita akan keluar sebagai negara yang lebih dihormati.
Jika tidak, kita hanya akan mengulang slogan lama sambil diam-diam menanggung beban yang semakin berat.
Hormat saya,
Kus Bachrul, SH
(Alumni GMNI Jember – Ketua Yayasan Kesatria Merah Jambu)
Seorang warga negara yang masih percaya bahwa politik luar negeri harus melindungi rakyat, bukan sekadar memperindah pidato.
Editor : Redaktur