Aktivis 98 vs Aktivis 2025, Gus Lilur Ingatkan Perbedaan Generasi Gerakan

SURABAYA, HNN – Ketua Umum Netra Bangsa Indonesia (NBI), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menyampaikan pernyataan mengejutkan terkait rencana aksi demonstrasi yang akan digelar oleh Aktivis 98.

Gus Lilur mengaku heran mengapa aktivis dari era reformasi 1998 masih harus turun tangan menyuarakan tuntutan di tahun 2025, yang sudah memasuki abad ke-21.

Baca Juga: PANCA AMPERA Menggema dari Madura: Gus Lilur Serukan Keadilan bagi Petani dan Industri Rokok Rakyat

“Saya kaget dan heran ketika membaca undangan rilis pada wartawan bahwa Aktivis 98 akan menggelar jumpa pers untuk menyuarakan tuntutan mereka,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Sabtu (30/8/2025).

“Apakah tidak ada aktivis di Republik Indonesia pada abad ke-21 di tahun 2025, sehingga Aktivis 98 terpaksa harus merilis tuntutan aksi demonstrasi yang bahkan banyak dilakukan anak STM?” tambahnya dengan nada retoris.

Menurutnya, Aktivis 98 memiliki identitas dan semangat perjuangan tersendiri yang tidak bisa diklaim oleh generasi sebelumnya.
“Dulu, saat saya masih menjadi mahasiswa tahun 1998, saya tidak mau Gerakan 98 diklaim oleh Gerakan 72, 80 bahkan oleh Gerakan 90-an. Aktivis 98 adalah aktivis 98,” tegasnya.

Gus Lilur juga menyoroti perbedaan situasi antara era 1998 dengan kondisi saat ini. Ia menegaskan, gerakan mahasiswa pada masanya lahir murni dari semangat perjuangan tanpa ditunggangi kepentingan kelompok lain.
“Dulu, aksi demonstrasi kami murni digerakkan oleh mahasiswa, tidak nebeng demo organ lain seperti ojek online yang sedang berduka karena saudaranya menjadi korban,” jelasnya.

Baca Juga: Gus Lilur: Jangan Sampai Kasus Cukai Salah Sasaran dan Rugikan Usaha Kecil

Karena itu, ia mengajak para aktivis muda era kini untuk berani tampil dan menunjukkan eksistensinya.
“Wahai rekan aktivis 2025! Wahai adik-adik aktivis abad 21! Hadir dan muncullah! Jangan mau gerakan kalian diklaim oleh aktivis abad 20, apalagi ditunggangi koruptor bangsat mafia minyak yang sekarang kabur ke luar negeri,” seru Gus Lilur.

Ia juga berpesan agar para aktivis memberi kesempatan kepada presiden terpilih untuk memimpin. Menurutnya, biaya politik dan sosial akan terlalu mahal bila ada desakan untuk mengganti presiden di tengah jalan.
“Beri Prabowo Subianto kesempatan menyelesaikan kepemimpinannya! Selamat datang di dunia gerakan Indonesia wahai aktivis abad 21! Bergeraklah! Bersihkanlah Indonesia dari para durjana! Di tangan aktivis abad 21, mimpi Indonesia Emas wajib menjelma,” pungkasnya.

Pernyataan Gus Lilur ini memicu diskusi hangat di kalangan aktivis dan masyarakat sipil. Sebagian mendukung seruannya agar generasi muda tampil sebagai garda depan perubahan, sementara sebagian lain menilai kolaborasi lintas generasi tetap penting untuk mencapai tujuan bersama.

Baca Juga: Muktamar NU: Ujian Integritas di Persimpangan Nilai dan Kekuasaan

Sebagaimana diketahui, beberapa hari terakhir aksi demonstrasi terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Di Surabaya, demo di depan Gedung Negara Grahadi berakhir ricuh dan bentrok dengan aparat. Massa bahkan membakar pos polisi sebagai bentuk pelampiasan amarah.

Aksi lanjutan juga terjadi pada Sabtu (30/8/2025) di Mapolrestabes Surabaya yang kembali berujung kericuhan. Gelombang protes ini dipicu kemarahan publik pasca wafatnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas dilindas mobil rantis Brimob dalam aksi demonstrasi di Jakarta. (d43n9)

Editor : Redaktur